Air Matamu Ibu

Style : Katolik
Terima kasih untuk Bpk. Setyo Anggoro, Surabaya

Seorang guru rohani di pertapaan nan sepi di tengah rimba raya belantara, di balik gunung menuturkan kisah berikut ini dalam punctum nya (renungan singkat) kepada rahib – rahib muda.

Di awal penciptaan, kata sang guru, malaikat sangat terkejut ketika melihat Allah sedang menciptakan sesuatu. “Allah, koq susah payah sekali mengerjakan yang satu ini?” tanya malaikat.
“Ya, betul. You betul. Sudah berhari-hari memang belum kelar2 juga.” jawab Allah. “Mengapa begitu? Engkau kan tinggal bilang saja, semua akan jadi.” “Itulah.. Kali ini Aku harus mengeluarkan seluruh keahlian-Ku. Tuntutan pemesannya sangat banyak dan rumit.” kata Allah sambil memperlihatkan nota pesanan kepada malaikat.

Malaikat segera menyambar secarik kertas itu dan memelototi sederet litani sang pemesan. Beginilah bunyinya itu :
1). Ia ini harus tahan air namun tidak boleh dibuat dari plastik
2). Ia harus mempunyai seratus delapan puluh bagian yang dapat digerak-gerakkan dan dapat diganti apabila rusak
3). Ia harus mampu bekerja berat hanya dengan minum kopi pahit dan makanmakanan biasa
4). Ia harus mempunyai pangkuan yang besar bila duduk, namun langsing apabila berdiri
5). Ciumannya harus dapat menyembuhkan apa saja, dari kaki yang patah hingga hati yang patah
6). Ia harus mempunyai enam pasang mata.
“Mustahil bisa enam pasang mata” sergah malaikat seketika. “Itu sih belum apa-apa. Yang lebih sulit lagi adalah pemesan minta satu pasang mata harus mampu melihat tembus pintu yang tertutup. Sepasang lagi untuk melihat apa yang tidak boleh tetapi ia harus tahu. Mata ini dibagian belakang. Sedangkan sepasang yang lain ditempat normal agar ia dapat melihat suami dan anaknya”.

“Wah… rumit sekali” kata Malaikat. “Tetapi sudah larut malam Allah, alangkah baiknya kalau pekerjaan ini besok saja diteruskan. Mari kita istirahat saja dulu.” ujar malaikat. “Maaf, ciptaan yang sangat menyerupai Aku ini harus Aku selesaikan dahulu baru beristirahat.” jawabAllah sementara terus bekerja.

– – –

“Tengoklah,” lanjut-Nya kemudian sambil memegang bahu malaikat, “Aku sudah menghasilkan ibu-ibu yang dapat mennyembuhkan dirinya sendiri manakala ia sakit hati tanpa ingat lagi siapa yang menyakitinya. “Ia,” kata Allah, “sanggup memberi makan secukupnya bagi keluarganya hanya dengan satu kilo beras”. Allah menyebut beberapa predikat lain lagi tentang ciptaan istimewa-Nya itu. Malaikat sampai terkagum-kagum betul. Lalu tangan malaikat mulai meraba-raba ciptaan itu.

“Allah, ini sih terlalu lunak” ujarnya. “Memang. Itu Aku sengaja. Kendati lunak tetapi ia kuat sekali” jawab Allh yakin. “Ia harus kuat melakukan banyak sekali pekerjaan dan menahan sejuta derita”.Begitu kata Allah. Malaikat tak habis bertanya,”Apakah ia dapat berpikir” celetuknya. “Tentu saja. Masak ciptaan menyerupai citra-Ku takdapat berpikir. Kamu ini bagaimana to. Lebih dari itu malah. Ia juga bijaksana dalam mengambil setiap keputusan” ujar Allah.

Barangkali karena kehabisan akal, malaikat itu sekali lagi mengamat-amati ciptaan yang sudah paripurna itu. Sekali lagi tangannya meraba-raba setiap bagian. Ketika tangannya menyentuh pipi ciptaan Allahitu, ia merasa ada sesuatu yang ganjil. “Aduh masih ada yang bocor, Allah. Lihat butiran air di tanganku ini” katanya kepada Allah sambil mengulurkan tangannya. Allah menelitinya. Ia meraba bocoran itu.” Ini bukan bocor. Ini adalah air matanya” kata-Nya meyakinkan malaikat.
“Koq pakai air mata segala. Untuk Apa?” desak malaikat.

Setelah berpura-pura berpikir sejenak, Allah menjelaskan hakekat air mata itu kepada malaikat. Katanya, “Air mata itu bermacam-macam artinya, seperti ungkapan perasaan kebahagiaannya, duka laranya, kasih cintanya yang dalam, kegelisahannya, kegetirannya dan sebagainya. Pokoknya, air matanya penuh makna. Setiap ciptaan lain mungkin tidak akan mampu menangkap artinya” kata Allah seraya mengelus-elus jenggotnya yang panjang dan sudah mulai memutih itu. Tampak kemudian malaikat itu manggut-manggut. “Allah, Engkau sungguh luar biasa” katanya.

– – –

Sang guru rohani kemudian menundukkan kepalanya. Ia tampak khusuk sejenak. Lalu mereka bersama-sama mendaraskan beberapa lagu pujian dari kitab Mazmur. Setelah itu satu persatu para rahib muda itu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan ruang semedi. Butiran – butiran embun di kelopak bunga bakung sudah mulai berjatuhan di tanah.Semilir angin pagi berhembus. Sementara itu sinar menguning dan sang mentari menyapu permukaan jagat di ufuk timur. Namun, pikiran para rahib muda masih bergelayut dengan cerita dari sang guru rohani mereka : apakah artinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *