Integritas & Profesionalisme Dalam Pelayanan

Kali ini saya akan menulis dan membagikan pengalaman tentang pelayanan. Pelayanan yang saya maksud adalah umum, baik untuk pelayanan publik, pemerintahan maupun dalam lingkup agama. Saya yakin tidak sedikit orang yang telah melakukan sebuah pelayanan dengan tulus dan konsekuen. Banyak contoh yang telah saya ikuti dan saya pahami konsep sebuah pelayanan dari beragamnya karakter manusia. Tetapi secara tidak sadar, kurangnya totalitas dalam melayani sering muncul akibat adanya suatu perubahan pada lingkungan sekitar. Entah itu tekanan, kritikan atau masalah-masalah pribadi. Dalam kesempatan kali ini, saya akan memberikan contoh-contoh sederhana yang akan membantu anda memberikan lebih baik lagi (saya yakin sekarang sudah baik..) sebuah pelayanan.

Seorang sopir taxi sedang mengantar penumpang dari luar negeri. Penumpang itu menunjukkan secarik kertas yang bertuliskan alamat tujuan. Sang sopir berpikir sejenak, ”saya tahu wilayah ini, tapi kalau alamat ini belum pernah kesana”. Akhirnya sang sopir berkata, ”Akan saya antar bapak kesanan”.

Sekitar 30 menit sopir ini berputar-putar didaerah itu sambil sesekali berhenti untuk bertanya. Sampai akhirnya sang sopir menemukan alamat itu. Dalam catatan argo taxi menunjukkan angka Rp 180.000, penumpang bule itu mengeluarkan uang pas dan memberikan kepada sopir. Sopir menerimanya tetapi mengembalikan Rp 30.000 kepada penumpangnya. Bule itu heran dan berkata, ”Pada argo tertulis demikian, mengapa anda mengembalikan sebagian”. Dengan tersenyum sopir berkata, ”Tugas saya adalah mengantar penumpang dengan selamat dan tidak membuang waktu. Memang pada argo tertulis demikian, tetapi karena kebodohan saya ; mestinya dengan Rp 150.000 saja anda sudah sampai tujuan”.

Cermati cerita diatas, secara hukum penumpang mempunyai kewajiban untuk membayar ongkos taxi sesuai argo. Benar kan! Tetapi, atas kebodohan (baca : kesalahan..) sang sopir, yang mestinya hanya dengan Rp 150.000 saja sudah sampai, jadi membutuhkan ekstra waktu. Sungguh baik jika semua sopir bisa demikian ^_^ Inilah yang dinamakan Integritas. Kemampuan dan keikhlasan sang sopir yang membuat sebuah kebaikan akan menghasilkan kepuasan dan kenyamanan bagi orang lain. Itulah harapan kita semua.

Cerita yang kedua berasal dari negeri paman sam. Waktu itu sekitar tahun1990an, beberapa penyanyi senior dan produser berkumpul untuk mengerjakan sebuah proyek. Mereka akan membuat lagu dan hasil dari penjualannya akan disumbangkan ke Afrika (saat itu sedang dilanda kelaparan).

Dalam dokumentasi proyek ini diceritakan saat seluruh penyanyi dan produser datang ke sebuah studio, mereka baru saja menghadiri acara. Acara untuk penganugerahan insan musik dimana semua adalah orang-orang kaya. Sebelum memulai latihan, produser memberikan pengarahan dan visi misi. Mengapa visi dan misi penting? Orang akan melakukan segala sesuatu dan diikuti dengan tanggung jawab serta keikhlasan jika ada sebuah tujuan yang jelas. Dalam hal ini sebuah kebaikan untuk membantu saudara yang sedang dilanda susah. Untuk lebih dalam memberi motivasi bagi mereka, diundang seorang relawan yang bertugas di Afrika untuk bercerita mengenai keadaan disana.

Mulailah mereka latihan, memperbaiki, memulai lagi, memperbaiki, memberi ide dan begitu terus dengan meninggalkan ego masing-masing orang. Semua sadar untuk kepentingan bersama mereka harus toleransi. Hampir jam 2 pagi mereka baru selesai latihan. Dilanjutkan dengan rekaman. Semua tampak semangat dan bergembira melakukan ini semua. Tidak perduli lelah mereka ingin memberikan yang terbaik untuk Afrika.

Sikap tanggung jawab dan melakukan dengan total ini yang disebut Profesional. Mereka setia dengan apa yang sudah menjadi komitmen dan keputusan bersama. Bersedia menerima perbaikan demi sebuah keberhasilan. Mereka tidak berebut porsi lagu walaupun tiap penyanyi hanya menyanyikan satu baris. Bisa saja ada pendapat, ”Saya kan yang paling besar kasih sumbangan, jadi mestinya saya menyanyikan 5 baris”, atau “Saya harus sering tampil di video clip karena suara saya jauh lebih baik dari semuanya”. Tetapi itu tidak pernah terjadi, visi dan misi yang telah disampaikan menjadi motivasi yang besar untuk sebuah keberhasilan. Walaupun tipe orang berbeda-beda (ada 5 tipe yang akan saya jelaskan secara terpisah) mereka tetap pada satu tujuan yaitu memberikan yang terbaik untuk hal baik.

Mulailah menilai tentang diri anda sendiri. Me-rekoleksi atas semua yang telah anda lakukan. Sudah baik-kah sikap anda dalam melayani? Totalkah anda dalam memberi pelayanan? Ingatlah! Sikap baik menjadi seorang yang besar bukan terjadi atas “apa yang telah diperbuat orang lain terhadap anda. Tetapi bagaimana anda melayani orang lain dengan sesuai”…

Inilah beberapa hal yang akan membantu anda dalam memberikan motivasi pada diri sendiri sebelum melakukan berbagai pelayanan:
1. Pahami anda adalah manusia sosial
2. Pelajari situasi yang anda hadapi
3. Perdalam visi dan misi untuk memperjelas tujuan
4. Buat kerangka kerja
5. Boleh tidak jujur tapi jangan sekali-kali anda berbohong
6. Jangan lupa berdoa dan berusaha untuk selalu tersenyum

Terlihat susah? Masak mau berbuat baik harus demikian susahnya. Saya katakan tidak, jika anda memang berniat memberi pelayananyang baik, anda akan mendapatkan yang baik pula. Semua itu hanya soal kebiasaan. Ok.. selalu tersenyum dan semangat..!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *